Minggu, 22 Februari 2015

MLM dan Money Game, Apa Bedanya? (bagian 2)

Setelah di tulisan sebelumnya gue ngebahas tentang ciri pertama pembeda MLM dan Money Game yaitu dasar perhitungan komisinya, sekarang gue mau bahas dari sisi produknya.

Sebagai skema abal-abal yang memang didesain untuk nipu, biasanya Money Game nggak punya produk. Skema asli Money Game adalah menarik duit pendaftaran dari anggota, lalu menyuruh anggota yang udah ada untuk merekrut lebih banyak lagi anggota baru agar mereka juga bisa dapet duit. Begitu terus sampe skemanya ambruk dan pengurusnya minggat.

Tapi zaman berkembang, orang makin pinter sehingga para penipu perlu muter otak lebih keras agar tetep bisa nipu. Mereka muncul dengan Money Game variasi pertama yaitu:


Produknya (konon) Ada, tapi Abstrak


Waktu zaman kuliah dulu pernah ada temen yang ngajakin 'investasi' di bidang penambangan sejenis lumpur eksotis yang hanya ada di pedalaman sebuah daerah terpencil. Katanya lumpur itu laku untuk sebuah merk kosmetik yang hanya dijual di luar negeri.

Mari kita cek:

  • Lumpurnya, nggak pernah denger. 
  • Kosmetiknya, nggak pernah lihat. 
  • Kemungkinan besar kalo kita naro duit di sini, akan nggak kedengeran maupun kelihatan juga tuh duit. 


Variasi pertama mungkin hanya laku di kalangan orang-orang yang kurang kritis. Maka penggiat Money Game muncul dengan variasi kedua yaitu:

Produknya Ada, tapi Pasarnya Nggak Ada

Sekitar 4 tahun lalu gue sempet ditawarin 'MLM' yang produknya paket voucher hotel. Konon dengan membayarkan sejumlah uang pendaftaran, kita bisa dapet voucher hotel yang berlaku di seluruh dunia dengan nilai berlipat ganda. Dari hasil browsing sana-sini gue tahu bahwa ternyata voucher hotelnya hanya berlaku di beberapa hotel di dalam negeri, itu pun sulit dicairkan karena selalu dijawab "fully booked".

Kondisi ini gue sodorkan ke orang yang ngajakin, dan jawabnya adalah, "Ya udah nggak usah pikirin voucher hotelnya, itu nggak penting, yang penting lu bisa dapet komisi kalo ngajak orang bergabung..."

Dengan kata lain, 'produk' berupa voucher hotelnya nggak punya nilai di pasar. Nggak akan ada orang waras yang mau beli voucher hotel yang nggak bisa dipake buat nginep di hotel, kan? Artinya mereka yang bergabung bukan ingin dapet voucher hotelnya, melainkan mengharapkan komisi dari orang-orang lain sesudah dia yang ketipu bergabung belakangan. Ini jelas ini bukan MLM, tapi Money Game.

Contoh lainnya, sebuah 2 tahun lalu gue diprospek untuk bergabung dengan sebuah 'MLM' yang menawarkan sebuah produk internet canggih. Biaya bergabungnya 8 jutaan. Setelah melewati waktu hampir 1 jam mendengarkan presentasi, gue malah makin bingung karena produk yang mereka tawarkan adalah produk yang selama ini dapat dinikmati gratis oleh para pengguna internet. Kalaupun ada produk sejenis yang berbayar, biayanya nggak sampe 2% dari uang pendaftaran yang mereka syaratkan.

"Ya kalo nggak ingin pake produknya nggak apa-apa kok, yang penting kan kalo bisa ngajak orang, kita dapat komisi," kata Sang Presenter.

Bingo. Money Game. 

Seperti yang udah gue jelasin di bagian pertama, MLM adalah sebuah skema pemasaran. Artinya, dia harus punya produk yang bisa dipasarkan, yang laku dijual. Sebuah skema MLM murni mampu memberikan penghasilan kepada para anggotanya yang gak punya downline, tapi rajin menjual. Oriflame, misalnya. Nggak semua member-nya rajin cari downline. Banyak juga yang hanya asik-asik jualan dan menikmati komisi penjualan. Itu sah-sah aja dan hasilnya lumayan kok. Kenapa? Karena produknya nyata dan bisa diserap pasar.

Masih ada ciri lainnya, yang akan gue jelaskan di tulisan ketiga.

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar