Rabu, 11 Februari 2015

MLM dan Money Game, Apa Bedanya? (bagian 1)

"Gue abis ditawarin bisnis nih. Cuma ngeri ah, kayaknya MLM atau money game gitu deh... takut ketipu."

Pernah denger kalimat kayak gitu? Atau kalian sendiri yang berpikiran seperti itu, masih bingung ngebedain antara MLM dan money game? Tenang, sebentar lagi kalian akan tau! 


Sesuai namanya, MLM alias Multi Level Marketing adalah sebuah skema pemasaran yang menggunakan sistem berjenjang. 'Skema pemasaran' gue garis bawahi karena memang itulah intinya: sebuah cara memasarkan produk. Yang membuat MLM unik adalah, para anggotanya punya banyak peran: mulai dari mengiklankan dan mempromosikan produk, menjual dan mendistribusikan, sampai merekrut anggota baru. Tapi semua peran itu bermuara pada satu tujuan: menjual produk lebih banyak dan lebih banyak lagi.
Cara kerja MLM dapat dianalogikan sebagai berikut: 

Katakanlah gue adalah seorang produsen roti. Gue punya oven roti berkapasitas besar, mampu memproduksi 10.000 roti setiap hari. Apa daya, gue nggak punya tenaga pemasaran. Kalau gue menjual sendiri roti hasil produksi gue, paling hanya laku 20 potong per hari. Kapasitas produksi mubazir. 

Akhirnya gue berkenalan dengan Bang Jali, seorang jagoan pemasaran. Gue minta bantuan Bang Jali untuk memasarkan roti-roti gue, dengan imbalan komisi atas setiap roti yang berhasil dijualnya. Bang Jali setuju. Akibatnya, penjualan gue naik, yang tadinya hanya laku 20 potong per hari, kini bisa laku 40 potong per hari. Gue menjual 20, Bang Jali menjual 20. Maka Bang Jali gue kasih komisi atas 20 potong roti tersebut. 

Tapi gue belum puas sampai di situ. Gue minta tolong lagi kepada Bang Jali, untuk merekrut lebih banyak tenaga penjual roti. Bang Jali pun merekrut 2 orang lagi, Si Naip dan Si Ableh. Namun ternyata, performa Si Naip dan Si Ableh tidak sama. Si Naip mampu menjual 30 potong roti per hari, sementara Si Ableh hanya 5. 

Apakah perbedaan performa kedua orang ini merugikan gue? Sama sekali enggak! Kenapa? Karena gue memberikan komisi hanya berdasarkan hasil penjualan yang benar-benar terjadi. Si Naip yang menjual 30 potong roti dapat komisi lebih besar dari Bang Jali yang hanya menjual 20 potong. Bang Jali yang jualan 20 potong, tentu komisinya lebih gede dari Si Ableh yang hanya mampu jual 10. Jadi, biarpun Bang Jali merekrut 1.000 orang sekalipun, tapi nggak ada satupun yang jualan, gue tenang-tenang aja, karena nggak ada komisi yang perlu gue bayarkan kepada mereka. Inilah prinsip dasar MLM: walau strukturnya berjenjang, yang dapat uang hanya yang kerja/benar-benar menjual produk. 

Sedangkan di Money Game, namanya juga game, permainan, nggak ada produk yang bener-bener diperdagangkan. Orang mendapatkan komisi atas anggota baru yang berhasil direkrutnya. Analoginya: gue sebagai pemilik pabrik roti meminta Bang Jali merekrut anggota baru, lantas membayar Bang Jali komisi atas jumlah anggota baru yang direkrutnya, sekalipun nggak ada yang becus jualan. Kalo itu yang gue lakukan, apakah roti-roti gue akan laku? Enggak. Apakah bisnis gue akan terus berputar? Enggak, karena nggak ada pemasukan (dari penjualan roti) tapi harus terus membayar komisi.  

Jadi, itu indikasi awal untuk mengenali apakah sebuah bisnis itu MLM atau money game: dari mana kita mendapatkan komisi? Kalau dari penjualan produk, kemungkinan besar MLM. Kalau dari merekrut, kemungkinan besar money game

Apakah hanya itu cirinya? Tentu enggak. Ada ciri lainnya, yang bisa dibaca di sini

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar